Blog berisikan berita dan informasi menarik tentang bisnis, kesehatan, kuliner, lifestyle, fashion, teknologi, properti, traveling

Selasa, 24 Oktober 2017

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Olahraga Outdoor



Meski gym menawarkan beragam fasilitas yang dapat menunjang kesuksesan program olahraga, beberapa orang tetap lebih memilih untuk olahraga di luar ruangan. Olahraga di taman kota tak hanya dapat mengusir kebosanan dengan pemandangan yang itu-itu saja, namun juga membuat tubuh dan pikiran lebih rileks. Tapi beberapa kebiasaan yang mungkin Anda lakukan ketika berolahraga outdoor mungkin dapat berbalik merugikan Anda. Yakin, Anda terbebas dari kebiasaan-kebiasaan di bawah ini?
Kebiasaan olahraga di luar ruangan yang tak baik bagi kesehatan, tapi mungkin sering Anda lakukan

1. Peregangan sebelum olahraga

Banyak orang percaya jika melakukan peregangan sebelum olahraga bisa mengurangi risiko cedera saat tengah berolahraga. Nyatanya, hal tersebut hanya sebuah mitos belaka. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Orthopedic Surgeons menemukan bahwa peregangan sebelum lari sama sekali tidak berdampak pada cedera. Penelitian lainnya yang diterbitkan dalam Millitary Medical Journal juga menyatakan hal yang serupa.

Peregangan statis adalah bentuk yang paling umum dari peregangan yang sering Anda temukan sewaktu berolahraga zaman sekolah dulu. Misalnya, menolehkan kepala ke kanan dan kiri untuk 10 hitungan, menahan lutut, meregangkan tangan ke kanan dan kiri, dan sebagainya.

Daripada melakukan set peregangan statis, para peneliti justru menyarankan agar Anda melakukan pemanasan dengan jalan cepat atau jogging dengan tempo lambat sebelum berolahraga. Jenis pemanasan inilah yang akan banyak berguna untuk sesi latihan Anda selanjutnya.

2. Lari di permukaan yang empuk

Saat memutuskan untuk olahraga di luar ruangan, terutama lari, pasti kebanyakan orang akan memilih lintasan lari yang lebih empuk dibandingkan yang keras. Pasalnya, orang-orang menganggap bahwa jalur yang empuk lebih baik untuk persendian. Faktanya, sampai saat belum ada bukti yang cukup terkait kebiasaan yang satu ini.

Hirofumi Tanaka, PhD, seorang program director olahraga dari University of Texas yang dilansir dari laman Women Health Megazine memperingatkan para pelari untuk lebih berhati-hati saat berlari di permukaan yang empuk. Pasalnya, permukaan yang empuk cenderung lebih tidak stabil dibandingkan jika Anda berlari di atas jalan beraspal. Hal tersebut justru bisa meningkatkan risiko jatuh dan pergelangan kaki terkilir atau keseleo.

3. Meningkatkan intensitas olahraga sembarangan semata untuk berkeringat lebih banyak

Berapa banyak keringat yang Anda keluarkan selama berolahraga belum tentu artinya tubuh telah membakar banyak kalori. Sebenarnya, kalori yang terbakar ketika Anda lari sejauh 5 km saat cuaca bersuhu 60 derajat akan sama dengan ketika Anda berlari sejauh 5 km di saat panas terik bersuhu 85 derajat.

Masing-masing orang memproduksi keringat dalam jumlah yang berbeda-beda. Sebagai contoh, wanita memiliki lebih banyak jumlah kelenjar keringat daripada pria, namun kelenjar keringat laki-laki cenderung bekerja lebih aktif. Artinya, laki-laki secara alami berkeringat lebih cepat dan lebih banyak daripada wanita meski jumlah kelenjar keringat yang diaktifkan sama banyak serta intensitas suhu dan aktivitas fisik juga sama rata.

Demikian pula ketika membandingkan jumlah keringat dari orang yang aktif berolahraga dan yang tidak. Orang yang bugar bisa berkeringat lebih cepat selama berolahraga karena suhu tubuh mereka lebih rendah dibanding orang-orang yang sedentari(kurang aktif bergerak). Namun jumlah keringatnya akan lebih banyak pada orang yang jarang berolahraga atau tidak pernah berolahraga, karena tubuh mereka lebih cepat memanas.

Ada baiknya Anda menghindari melakukan olahraga saat siang bolong, ketika cuaca sedang panas-panasnya. Tidak hanya berisiko terkena heartstroke melakukan aktivitas fisik di suhu tinggi juga akan meningkatkan risiko kanker kulit. Cobalah menjadwalkan olahraga ataupun aktivitas fisik lainnya saat suhu udara sudah mulai sedikit lebih rendah, misalnya saat pagi atau sore hari.

4. Jarang minum

Asupan air ketika melakukan olahraga di luar ruangan memang penting. Tapi, ini semua tergantung pada seberapa lama sesi latihan yang Anda lakukan. Jika Anda akan melakukan lari sejauh 5 km, otomatis Anda memerlukan air. Tapi, untuk aktivitas yang lebih berat, seperti olahraga triathlon atau olimpiade lari jarak jauh lainnya di musim panas, air saja tidak cukup untuk menggantikan cairan yang hilang selama Anda melakukan aktivitas tersebut.

Sebenarnya ketika badan Anda sangat berkeringat, Anda kehilangan kadar garam dan elektrolit dalam tubuh. Buruknya, saat Anda mengisi cairan tubuh hanya dengan meminum air, air itu justru mengencerkan kadar garam dan elektrolit tadi yang dapat menyebabkan hiponatremia (kadar natrium rendah yang menyebabkan sel membengkak).

Sebagai gantinya, Anda membutuhkan minuman isotonik. Minum isotonik merupakan minuman yang ditujukan untuk para atlet, untuk menggantikan cairan, elektrolit, serta gula pada atlet secara cepat. Jenis minuman ini dapat cepat diserap oleh tubuh karena memiliki konsentrasi serta tekanan osmotik yang sama seperti cairan yang ada di dalam tubuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar